Tampilkan postingan dengan label Pusaka Keris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pusaka Keris. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Juni 2019

KERIS PUSAKA PULANGGENI

Keris Pulanggeni

Membahas keris pulanggeni teringat tentang kisah pewayangan, yaitu pusaka milik Raden Janoko. Keris yang di takuti oleh musuh musuhnya itu menjadi legenda dan menjadi pusat perhatian para pemerhati pusaka dan spiritual.
Dalam cerita pewayangan, banyak tokoh sakti mandraguna. Salah satu tokoh sakti yang sangat terkenal adalah Arjuna, ksatria Pandawa. Lawan-lawannya bisa mudah dikalahkan. Arjuna mempunyai aji, ilmu dan senjata atau pusaka andalan untuk menunjang kesaktiannya itu, yang didapatkan dari seringnya tokoh ini mengembara menuntut ilmu kepada para pendita dan guru, juga seringnya bertapa meminta kesaktian kepada para dewa.
Pulanggeni adalah pusaka milik Arjuna berwujud keris. Jangankan tertusuk keris ini, terserempet sedikit saja musuh akan tewas. Pulanggeni digunakan Arjuna untuk menandingi keris milik Karna, yang bernama Kyai Jalak. Pulanggeni, keris pusaka yang diwariskan kepada Abimanyu dan dibawa gugur dalam perang Baratayuda.

Dalam pembahasan kali ini penulis lebih menganlisa pusaka pusaka pulanggeni milik penulis pribadi, yang ada dalam dunia perkerisan saat ini.
Ada sekitr 5 bilah keris yang saya analisa dan mendapatpan hasil yang memang membuat saya merasa harus meng share analisa saya ini.



Keris pulanggeni selalu memiliki keistimewaan sendiri, di mana keris itu sengaja di buat untuk di ambil tuahnya atau kegaibanya.
Ada dua macam kategori jenis pulanggeni, yaitu pulanggeni lurus dan pulanggeni luk 5.

Dapur pulanggeni luk lurus memiliki ricikan yang sama dengan brojol, hanya saja beda pada bilahnya. Bilah pada Pulanggeni lebih kecil tipis dan tajam.

Kedua jenis pulanggeni ini sama sama mengandung tuah yang istimewa,
Namun untuk keris lurus lebih di buat untuk di tujukan pada kalangan bawah, seperti masyarakat biasa, demang, kesatria dan para pendekar.

Meski tidak di gunakan untuk bertarung, pulanggeni salah satu pusaka yang bisa di andalkan dalam kegaibanya, karena memiliki sifat yang tajam dan kuat.

Biasanya pulanggeni di gunakn untuk bertarung melawan bangsa jin atau musuh gaib karena keistewaanya di situ.
Pulanggeni memiliki tuah yang dapat membakar bangsa jin layaknya aji segoro geni atau gembolo geni atau ajian pukulan lainya yang bersifat membakar. Bila pusaka di kipaskan atau di tusukkan ke musuh, maka kita sama halnya memgkipaskan atau menusukkan sejenis ajian segoro geni atau gembolo geni.
Tak hanya itu saja, pulanggeni juga memiliki tuah untuk menolak serangan gaib sejenis santet, teluh, tenung dsb
Karena memang di dalam pusaka itu, sang empu menyisipkan doa keselamatan dan tolak bahaya.

Untuk pulanggeni luk 5 memiliki tuah yang lebih kuat di bandingkan luk lurus, karena luk 5 lebih di peruntukan untuk kalangan menengah ke atas, atau seperti raja, keluarga raja, keluarga kerajaan, resi, kyai, pendito, adipati, Patih, panglima dsb yang memiliki derajat status yang menengah ke atas.
Karena di zaman singosari, kediri dan majapahit belum banyak beredar keris ber luk. Yang banyak beredar adalah keris lurus.

Di masa majapahit ke atas, keris ber luk sangatlah jarang dan hanya di buat untuk orang orang tertentu saja tidak sembarang orang bisa memesan keris ber luk. Karena dulu keris di buat dengan mengunakan ilham yang turun agar sesuai dengan derajat dan status pemiliknya. Tidak seperti saat ini yang keris di buat tidak mengunakan wangsit atau ilham terlebih dahulu.
Di masa sultan Agung, keris sudah di buat dengan tidak mencari ilham atau wangsit, sudah banyak empu yang kemampuan mencari wangsitnya berkurang.
Hanya segelintir empu saja di masa Sultan Agung yang Masih menggunakan Ilham dalam membuat sebilah pusaka.
Kebanyakan empu membuat sesuai pesanan bentuk yang di inginkan oleh sang pemesan, padahal terkadang itu tidaklah cocok dan tidaklah sesuai.

Kisah Empu Supo yang pernah di suruh membuat pusaka oleh seorang pedagang buah, semasa beliau berada di blambangan.
Pedagang itu memberilan banyak sekali upah dan memberikan banyak kain, makanan, buah2an dan beberapa kepeng uang(koin).

Empu Supo pun membuatkan sebuah pusaka, beliau membuatnya selama 7 hari di dalam blumbang atau lubang galian tanah mirip lubang kuburan. Selama 7 hari itu beliau hanya minum air putih saja.
Setelah jadi ternyata pusaka itu berbentuk sebilah pisau.
Sang pedagang yang memesanya pun kecewa karena hanya sebilah pisau, dan menegur empu Supo karena merasa di sepelekan dengan membuatkanya sebilah pisau.
Kemudian empu Supo pun berkata, bahwa ilham yang saya dapatkan untuk anda adalah sebilah pisau dengan pamor Singkir, tidak ada yang lain, sehingga saya rasa bentuk inilah yang cocok untuk anda.

Kemudian sang pedangan merasa emosi dan menancapkan pisau itu ke sebuah pohon pisang,  dalam beberapa detik pohon itu kering dan mati.
Melihat kejadian itu sang pedagangpun heran dan kaget.
Kemudian memohon maaf dan berterimaksih.

Kisah itu merupakan sebuah contoh bahwa sebenarnya untuk membuatlan sebilah keris haruslah dengan wangsit atau ilham, agar selaras dan bermanfaat dengan pemegangnya.

Senin, 21 Mei 2018

PENGERTIAN PUSAKA

Pusaka adalah sebuah benda bertuah yang diyakini dan terasa manfaatnya terutama oleh pemilik pusaka tersebut. Pusaka adalah sebuah ageman atau pegangan bagi orang yang memiliki dan meyakininya. Pusaka dapat menambah kepercayaan diri dari para pemilik. Pusaka juga menjadi lambang kebanggaan bahkan status sosial. Pada tataran tertentu kepemilikan pusaka sedikit banyak menjadi cermin tingkatan batin seseorang.
Pusaka yang penulis pernah lihat secara langsung selama ini kebanyakan adalah benda benda buatan tangan manusia peninggalan masa kerajaan dahulu. Meski demikian saya menyakini ada pusaka di alam gaib yang benar - benar murni berasal dari alam mistik ( bukan buatan manusia ).
Pusaka dapat digolongkan ke dalam tuah / khasiatnya :
1. Tuah kepangkatan / karir / kewibawaan
2. Tuah penglarisan ( rejeki ) / daya tarik / mahabah
3. Tuah kekebalan / power / penjagan / proteksi / keselamatan
4. Tuah untuk panglimunan (sudah sangat jarang)
5. Tuah untuk penyembuhan
Tuah umum sebuah pusaka adalah keselamatan bagi pemegangnya. Dari kelima golongan tuah pusaka di atas, dapat melahirkan berbagai macam pusaka. Umumnya pusaka yang banyak di masyarakat adalah keris, kujang, tombak, tongkat, trisula, gada, cemeti, batu – batuan dsb. Pusaka tidak mengenal ukuran, dari sebesar biji buah delima sampai ukuran jumbo semacam arca / patung. Terkadang pusaka berbentuk perkakas atau perhiasan semacam liontin, kalung atau bisa juga berbentuk tasbih, dsb.
Benda - benda tersebut menjadi pusaka karena dibawa dari alam manusia ke dimensi gaib oleh khodam. Melalui proses materilisasi / menginfestasikan / penarikan benda maka kita dapat mewujudkan kembali benda - benda tersebut ke alam manusia.
Di pulau Jawa, pada jamannya, selain faktor kegaibannya, Pusaka seperti keris, tombak, dan kujang,berkembang menjadi lambang derajat pemiliknya, lebih daripada sekedar sebuah senjata perang / tarung. Ada aturan-aturan yang harus dipatuhi di masyarakat tentang tatacara mengenakan Pusaka dan jenis-jenis Pusaka yang boleh dimiliki oleh seseorang apalagi pusaka sejenis keris.
Dari banyaknya pusaka penulis membagi jenis pusaka menjadi 3 macam
Senjata pusaka / Tosan aji / wesi aji
Batu aji
Benda hiasan
Senjata pusaka adalah sebuah benda yg di gunakan untuk berperang, dan memiliki kekuatan gaib tersendiri yang memang di manfaatkan untuk berbagi keperluan missal saja untuk menambah rasa berani dan menambah kekuatan tubuh saat berperang.
Namun ada juga senjata pusaka yang kusus di gunakan untuk keperluan selain perang, missal saja keris Junjung derajat. Keris ini lebih di manfaatkan oleh orang orang jawa terdahulu sampai sekarang untuk menjunjung pangkat dan karir. Dan lebih banyak di simpan dari pada untuk bertarung.
Dalam dunia perkerisan ada aturan-aturan yang harus dipatuhi di masyarakat tentang tatacara mengenakan keris dan jenis-jenis keris yang boleh dimiliki oleh seseorang. Seorang rakyat biasa tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang lurah. Seorang lurah tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang bupati. Seorang senopati tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang raja. Seorang raja juga tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang senopati, dsb. 

Bila ada seseorang memiliki keris yang derajat kerisnya lebih tinggi dari kedudukan dirinya di masyarakat, orang itu tidak akan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Biasanya akan diserahkan / dipersembahkannya kepada orang lain yang pantas untuk memilikinya. Begitu juga seseorang yang berderajat tinggi, ia tidak akan mengenakan keris untuk orang berderajat di bawahnya. Biasanya akan disimpan saja di ruang pusakanya atau diberikannya kepada orang lain yang pantas memakainya.
Kegaiban suatu pusaka telah menyebabkan keris bersifat pribadi bagi pemiliknya. Itu juga yang menyebabkan adanya tradisi, seseorang yang ingin memindahtangankan sebuah Pusaka, tidak menyebut harga pusaka, tetapi "mahar" atau "mas kawin" sebuah Senjata pusaka. Tradisi perlakuan tersebut sama seperti seseorang yang harus menyediakan "mas kawin" untuk meminang anak gadis seseorang. Perlakuan tersebut adalah bentuk penghormatan orang atas kegaiban pusaka tersebut.

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR Pada dasarnya segala sesuatu yang terjadi didunia ini merupakan kehendak dari Tuhan Sang Pencipta (Allah SWT). Manusia seb...